Penjelasan:
KEARIFAN LOKAL DI JAWA :
1. Pitutur Luhur Suku Jawa (Kata-kata luhur atau kata-kata bijak)
a. Ibu Bumi, Bapak Aksa (bahwa ibu adalah bumi, sementara bapak adalah langit. Maksudnya adalah bumi adalah simbol ibu yang memberikan kesuburan tanah sebagai tempat kegiatan pertanian. Sedangkan langit adalah simbol bapak yang memberikan keberkahan berupa turunnya air hujan. Hal ini mengajarkan bagaimana menyayangi, melindungi, dan menghormati bumi beserta langit sebagaimana kita melakukannya kepada kedua orang tua)
b. Asta Brata (Delapan Ajaran) , merupakan ajaran tentang kemanusiaan dan kepemimpinan. Ajaran ini juga diajarkan kepada putra mahkota raja-raja jawa pada masa zaman kerajaan dahulu kala. Ajaran ini berseumber kepada filsafat bumi, air, api, angin, matahari, bulan, bintang, dan awan. Dalam perkembangannya kemudian ajaran asta brata ini tidak hanya di berikan kepada putra mahkota kerajaan, tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat. kedelapan elemen tersebut merupakan elemen yang saling berkaitan satu sama lain dan memiliki pengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia itu sendiri).
2. Bancakan /slametan : diwujudkan dalam bentuk nasi tumpeng yang berbentuk kerucut,biasanya nasi gurih (nasi uduk) dengan aneka lauk, atau dikenal juga dengan istilah kembul bujana. Bancakan/slametan biasanya dilakukan setelah terwujudnya suatu keinginan yang diinginkan, yang bermaksud untuk mensyukuri atas karunia yang telah diterima.
3. Suran / Suro : Bulan suro dikenal sebagai bulan yang sakral oleh sebagian besar orang Jawa. Beberapa memiliki kepercayaan jika pada bulan ini tidak boleh mengadakan acara/hajatan. Jika melanggar konon akan mengalami gangguan/hal-hal yang tidak diinginkan dalam acara yang digelar. Ditambah lagi dengan adanya beberapa kegiatan budaya dari keraton-keraton yang masih eksis semisal Kirab Pusaka yang diadakan oleh Kadipaten Mangkunegaran dan Keraton Kasunanan Surakarta.
4. Gunungan atau Sekatenan : diselenggarakan oleh Keraton Kasultanan Yogyakarta maupun Keraton Kasunanan Surakarta. Prosesi gunungan dikenal dengan acara Grebeg Maulud. Acara sekaten yang ada di Surakarta dan Yogyakarta merupakan peninggalan dari zaman Kerajaan Demak. Pada awalnya acara sekaten diselenggarakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, oleh Sunan Kalijaga kegiatan pesta rakyat tersebut disisipi dengan kegiatan syi’ar yaitu menarik rakyat Demak yang belum memeluk Islam untuk di ajak bergabung masuk Islam.
5. Sedekah mulai diperkenalkan ke masyarakat jawa oleh sunan kalijaga, dikarenakan adanya kebiasaan masyarakat Jawa saat itu yang gemar memberikan sesaji / sajen. Maka dari itu, kebiasaan untuk mengeluarkan sebagian harta yang dimiliki dalam bentuk sajen diubah dalam bentuk sedekah yang diperuntukkan untuk sesama agar lebih bermanfaat dan Islami. Sedekah bumi dan sedekah laut adalah 2 kegiatan budaya yang sering kita jumpai hingga saat ini. Sedekah bumi dilakukan di daerah yang memiliki pertanian yang subur, Sedekah bumi dilakukan setelah panen raya, kegiatan ini ditujukan untuk mensyukuri atas hasil yang diperoleh. Sedangkan sedekah laut dilakukan oleh masyarakat nelayan yang sumber mata pencaharian diperoleh dari laut.
6. Upacara kasada/sukasada : hari raya adat suku Tengger yang diadakan setiap hari ke-14 pada bulan Kasada dalam kalender Jawa. Upacara ini dimaksudkan sebagai persembahan untuk Sang Hyang Widhi dan leluhur. Dalam pelaksanaannya, suku Tengger melempar berbagai sesajen berupa buah-buahan, produk ternak, sayuran bahkan uang ke kawah Gunung Bromo.
7. Karapan sapi : sapi untuk beradu kecepatan yang dipasangkan untuk menarik kereta dari kayu sebagai tempat joki berdiri serta mengendalikan sapi. Acara ini biasa diselenggarakan pada bulan Agustus-Oktober, dengan bulan terakhir untuk acara final. maksud dari karapan sapi adalah untuk mencari sapi yang kuat untuk membajak sawah.
8. Pingitan ( mengurung diri di dalam rumah) : sebuah pendidikan bagi wanita yang beranjak dewasa sampai akan menikah. Pada saat itulah wanita mulai belajar bekerja membantu ibu di dapur dan belajar urusan rumah tangga.
Dan khususnya dalam pernikahan, pingitan ini bertujuan untuk menjaga wanita tetap suci dan terhindar dari marabahaya. Karena, kata Orang Jawa Kuno, orang yang akan menikah itu rentan oleh penyakit yang nggak terlihat (sambekala, sarap dan sawan). Dengan kata lain, sesuatu yang bisa membuat kecemasan dan halangan
[answer.2.content]